hai teman, pembaca yang budiman !
alhamdulillah.....kebetulan ini adalah blog pertama saya, karenanya disini saya akan mengawalinya dengan ucapan bismillahirrahmanirrahiim. mengapa demikian? karena dalam suatu keterangan dikatakan bahwa sesungguhnya segala amal perbuatan baik, apabila tidak diawali dengan basmalah maka tidak akan mendapatkan berkah darinya. jadi sia-sia kan? semoga jangan begitu.
berhubung saya menulis di blog ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan saling mengingatkan dengan dakwah, maka kita awali bersama dengan mengingat rabbul 'alamin kita. karena berkat qudrat dan iradat-nya lah saya sendiri dapat berininsiatif untuk mengembangkan hobi dengan blog ini. " whenever you alone remember to allah" OK......
kritik dan saran yang membangun, saya harap dapat pembaca sampaikan dengan suka hati.inilah pos pertama cerpen saya dengan bertemakan SOSIAL RELIGI.....Selamat membaca :) ....
Petaka Sahabat Masa Lalu
Citra dan Dita adalah sahabat karib
yang serasi, mereka cantik dan pintar lagi tentunya. Saat itu mereka berencana untuk
pergi mengunjungi rumah Dita di Jakarta.
Maklumlah, sudah sekitar 3 tahun tinggal di pesantren, disuruh belajar ilmu
agama karena kenakalannya di masa SMP membuat ia harus belajar bersabar kepada Citra.
Hingga saatnya kerinduan yang kian membendung itu akan ia wujudkan esok hari.
Dita yakin, orang tuanya pastilah bangga dengan perubahan sikapnya begitu juga
dengan Citra.
Keesokan harinya, mereka berangkat
dari Jawa Timur menuju Jakarta dengan bus. Mereka berdua menikmati perjalanan
dengan penuh suka cita. Ketika sampai di Stasiun Jakarta, tidak sengaja mereka
bertemu dengan Bella, sahabat Dita semasa SMP dulu. Dita pun menyapanya dengan
gembira, “ Hai Bella, bagaimana kabarmu ? “ . Bella terheran-heran melihat Dita
dan spontan menertawakannya, “ Ya ampun Dita itu beneran elu? Gue beneran gak
nyangka elu jadi gini. Mana sih elu yang kece kayak dulu, pake jilbab segala
lagi kayak nenek-nenek aja tau, hahaha.....”.
Citra tahu bagaimana perasaan Dita
saat itu karena diperolokan oleh sahabat masa lalunya. “Maaf mbak Bella, kami
permisi dulu”. Bella menunjuk citra sambil berkata, “ Oh gitu ya, jadi dia yang
suka ceramahin elo. Inget, persahabatan kita dulu Dit, elo beneran udah lupa !”.
Bella pun pergi dengan gaya tomboy serampangannya meninggalkan Citra juga Dita
yang kini terlihat bimbang.
Sesampainya di rumah Dita, mereka
disambut gembira oleh orang tuanya Dita. Mereka terlihat melepas rindu dengan
penuh bahagia. Terlebih karena melihat perubahan pada anaknya. Citra pun ikut merasa
senang dibuatnya.
Selama di Jakarta, mereka sudah
terbiasa mengikuti pengajian malam jum’atan di Masjid. Walaupun umumnya hanya
ibu-ibu yang hadir, mereka tetap semangat mengikutinya. Ketika di tengah
perjalanan itu, Bella beserta gengnya menghampiri mereka. “ Hai Dita, mau
kemana kamu ? Ayo ikut kita aja main bareng lagi kayak dulu! “ ucap Bella
diikuti tatapan sinis teman gengnya. “ Iya Dit, kita itu kangen banget sama lo.
Cuma buat malam ini doang! “ bujuk Tasya. “ Inget guys we are best friend
forever, ayolah ikut sama kita!” Key menimpali.
Dita terlihat makin kebingungan, Citra
pun mulai mengambil sikap, “ Kita berangkat saja Dita, acaranya mau dimulai.”
Dita menjawab, “ maaf Citra, aku harus menyelesaikan urusanku dulu dengan
sahabatku. Tolong do’akan aku ya, “.
Dengan perasaan cemas Citra berkata, “ Jaga selalu dirimu ”. Dita mengangguk
dan pergi bersama Bella dan gengnya hingga lenyaplah mereka dari pandangan Citra.
Ucanya lirih, “ Ya Allah, aku percayakan mereka padamu.........”.
Sampai tengah malam, Dita belum pulang
juga. Citra dan ayah ibu turut mengkhawatirkannya. Citra merasa menyesal dan
bersalah karena melepaskan kepergian Dita. Pada saat yang bersamaan, telepon
rumah pun berdering beberapa kali. Ibu
segera menjawabnya. Dengan isak tangis yang terbata-bata, ibu mengatakan bahwa Dita
sedang ditahan di kantor polisi karena ketahuan sedang pesta miras dan narkoba.
Mereka segera pergi ke Kantor Polisi. Setelah
mengetahui kedatangan mereka, Dita segera memeluk Citra dan berkata dengan nada
yang lirih terisak tangis, “ Aku tidak bermaksud seperti itu, merekalah yang
memaksaku. Oh tuhan.....”. Pernyataannya itu seketika membuat Citra dan kedua
orang tuanya merasa terpukul luar biasa.
Kini Dita menyadari bahwa bagaimanapun keadaannya,
lingkunganlah yang akan membuatnya menjadi seorang yang seperti apapun.
Untuk semua sahabat.... jadiaknlah dirimu seseorang yang apabila orang memandangmu maka mereka akan ingat kepada ALLAH tuhanmu. Karena dirimu yang taat dan mampu mengajak kepada mereka yang berada di sekelilingmu dalam kebaikan dan taqwa....Karena besarnya cintamu pada ALLAH menunjukkan seberapa besarkah cinta orang-orang di sekitarmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar