Selasa, 13 September 2016

CERPEN_PETAKA SAHABAT MASA LALU


hai teman, pembaca yang budiman !
alhamdulillah.....kebetulan  ini adalah blog pertama saya, karenanya disini saya akan mengawalinya dengan ucapan bismillahirrahmanirrahiim. mengapa demikian? karena dalam suatu keterangan dikatakan bahwa sesungguhnya segala amal perbuatan baik, apabila tidak diawali dengan basmalah maka tidak akan mendapatkan berkah darinya. jadi sia-sia kan? semoga jangan begitu.
berhubung saya menulis di blog ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan saling mengingatkan dengan dakwah, maka kita awali bersama dengan mengingat rabbul 'alamin kita. karena berkat qudrat dan iradat-nya lah saya sendiri dapat berininsiatif untuk mengembangkan hobi dengan blog ini. " whenever you alone remember to allah" OK......
kritik dan saran yang membangun, saya harap dapat pembaca sampaikan dengan suka hati.
inilah pos pertama cerpen saya dengan bertemakan SOSIAL RELIGI.....Selamat membaca :) ....



Petaka Sahabat Masa Lalu

            Citra dan Dita adalah sahabat karib yang serasi, mereka cantik dan pintar lagi tentunya. Saat itu mereka berencana untuk pergi  mengunjungi rumah Dita di Jakarta. Maklumlah, sudah sekitar 3 tahun tinggal di pesantren, disuruh belajar ilmu agama karena kenakalannya di masa SMP membuat ia harus belajar bersabar kepada Citra. Hingga saatnya kerinduan yang kian membendung itu akan ia wujudkan esok hari. Dita yakin, orang tuanya pastilah bangga dengan perubahan sikapnya begitu juga dengan Citra.
            Keesokan harinya, mereka berangkat dari Jawa Timur menuju Jakarta dengan bus. Mereka berdua menikmati perjalanan dengan penuh suka cita. Ketika sampai di Stasiun Jakarta, tidak sengaja mereka bertemu dengan Bella, sahabat Dita semasa SMP dulu. Dita pun menyapanya dengan gembira, “ Hai Bella, bagaimana kabarmu ? “ . Bella terheran-heran melihat Dita dan spontan menertawakannya, “ Ya ampun Dita itu beneran elu? Gue beneran gak nyangka elu jadi gini. Mana sih elu yang kece kayak dulu, pake jilbab segala lagi kayak nenek-nenek aja tau, hahaha.....”.
            Citra tahu bagaimana perasaan Dita saat itu karena diperolokan oleh sahabat masa lalunya. “Maaf mbak Bella, kami permisi dulu”. Bella menunjuk citra sambil berkata, “ Oh gitu ya, jadi dia yang suka ceramahin elo. Inget, persahabatan kita dulu Dit, elo beneran udah lupa !”. Bella pun pergi dengan gaya tomboy serampangannya meninggalkan Citra juga Dita yang kini terlihat bimbang.
            Sesampainya di rumah Dita, mereka disambut gembira oleh orang tuanya Dita. Mereka terlihat melepas rindu dengan penuh bahagia. Terlebih karena melihat perubahan pada anaknya. Citra pun ikut merasa senang dibuatnya.
            Selama di Jakarta, mereka sudah terbiasa mengikuti pengajian malam jum’atan di Masjid. Walaupun umumnya hanya ibu-ibu yang hadir, mereka tetap semangat mengikutinya. Ketika di tengah perjalanan itu, Bella beserta gengnya menghampiri mereka. “ Hai Dita, mau kemana kamu ? Ayo ikut kita aja main bareng lagi kayak dulu! “ ucap Bella diikuti tatapan sinis teman gengnya. “ Iya Dit, kita itu kangen banget sama lo. Cuma buat malam ini doang! “ bujuk Tasya. “ Inget guys we are best friend forever, ayolah ikut sama kita!” Key menimpali.
            Dita terlihat makin kebingungan, Citra pun mulai mengambil sikap, “ Kita berangkat saja Dita, acaranya mau dimulai.” Dita menjawab, “ maaf Citra, aku harus menyelesaikan urusanku dulu dengan sahabatku. Tolong  do’akan aku ya, “. Dengan perasaan cemas Citra berkata, “ Jaga selalu dirimu ”. Dita mengangguk dan pergi bersama Bella dan gengnya hingga lenyaplah mereka dari pandangan Citra. Ucanya lirih, “ Ya Allah, aku percayakan mereka padamu.........”.
            Sampai tengah malam, Dita belum pulang juga. Citra dan ayah ibu turut mengkhawatirkannya. Citra merasa menyesal dan bersalah karena melepaskan kepergian Dita. Pada saat yang bersamaan, telepon rumah pun berdering beberapa kali.  Ibu segera menjawabnya. Dengan isak tangis yang terbata-bata, ibu mengatakan bahwa Dita sedang ditahan di kantor polisi karena ketahuan sedang pesta miras dan narkoba.
            Mereka  segera pergi ke Kantor Polisi. Setelah mengetahui kedatangan mereka, Dita segera memeluk Citra dan berkata dengan nada yang lirih terisak tangis, “ Aku tidak bermaksud seperti itu, merekalah yang memaksaku. Oh tuhan.....”. Pernyataannya itu seketika membuat Citra dan kedua orang tuanya merasa terpukul luar biasa.
            Kini  Dita menyadari bahwa bagaimanapun keadaannya, lingkunganlah yang akan membuatnya menjadi seorang yang seperti apapun.


    Untuk semua sahabat.... jadiaknlah dirimu seseorang yang apabila orang memandangmu maka mereka akan ingat kepada ALLAH tuhanmu. Karena dirimu yang taat dan mampu mengajak kepada mereka yang berada di sekelilingmu dalam kebaikan dan taqwa....Karena besarnya cintamu pada ALLAH menunjukkan seberapa besarkah cinta orang-orang di sekitarmu.
  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar